Selasa, 19 April 2011

Cerita Tentang Oral Sex

Sex - Sayangnya, oral seks juga tidak benar-benar steril dari penyakit. Hubungan seksual semacam ini sangat beresiko tinggi dilihat dari segi kesehatan. Karena di dalam mulut terdapat bakteri-bakteri yang mengandung garam bermuatan positif. Sedangkan pada alat kelamin, banyak terdapat bakteri-bakteri yang mengandung garam bermuatan negatif.

Aktivitas seksual lewat mulut-mulut atau mulut-kelamin, sama-sama beresiko tinggi untuk perpindahan kuman dan bakteri penyakit. Apalagi jika ditambah dengan si pelakunya kurang menjaga kesehatan bagian-bagian tubuh yang bersangkutan.

Banyak yang mencoba, menyukainya. Tetapi yang lain memberikan beberapa komentarnya. Komentar-komentar ini bisa dibagi ke dalam tiga hal umum: pertama, bahwa seks oral itu tidak higienis; kedua, bahwa tabu untuk melakukannya; tiga, bahwa seks oral bukanlah ungkapan suatu kejantanan ataupun feminitas.

Dari segi higienis, seks oral, baik cairan semen (air mani) maupun cairan vagina sebenarnya tidak berbahaya. Ini tentu saja tidak berbahaya bagi mereka yang tidak terkena penyakit menular seksual (PMS atau PHS). Setiap orang harus memastikan bahwa dirinya dan pasangannya bebas dari PMS sebelum melakukan hubungan seksual. Tidak ada penyakit yang ditularkan melalui seks oral yang tidak bisa ditularkan melalui seks dalam bentuk lainnya. Jika seseorang mengidap PMS maka pasangannya kemungkinn akan tertular apapun bentuk hubungan seks yang mereka lakukan. Singkatnya, hubungan seks di antara pasangan yang sehat adalah aman dan bersih.

HAL lain yang membuat orang ‘malas’ melakukan oral seks adalah banyak yang merasa ‘terganggu’ dengan aroma alat kelamin, baik perempuan atau laki-laki. Meski disarankan untuk membersihkan alat kelamin dahulu, tapi tetap saja ada yang mengganjal.

Kemudian munculnya anggapan-anggapan bahwa oral seks adalah hal yang tabu, juga masih kuat mengakar. Hal itu membuat sebagian orang enggan dan memilih melakukan seks secara konvensional saja. Belum lagi kalau bicara larangan agama, seringkali merasa bersalah dan berdosa ketika ‘nekat’ melakukannya, meskipun mereka tahu bahwa hubungan seks dengan cara ini adalah aman dan suatu bentuk ekspresi seksual yang wajar.

Berbeda dengan oral, praktek anal menemui ‘rintangan’ yang lebih pelik. Seks anal adalah hubungan seksual di mana penis yang ereksi dimasukkan ke rektum melalui anus. Selain itu penetrasi anus dengan dildo, butt plug, vibrator, lidah, dan benda lainnya juga disebut anal seks. Anal seks dapat dilakukan oleh orang heteroseksual maupun homoseksual.

Yang menarik, ada dua sudut pandang yang berbeda dari negara Asia dan Eropa. Ini terbukti dalam sebuah riset yang dilakukan di Perancis dan Korea Selatan. Di Perancis, tahun 2001 dari sekitar 500 responden perempuan, 29 % mengaku melakukan anal seks dengan pasangannya. Prosentase ini berbeda cukup jauh dengan perempuan di Korea Selatan tahun 1999, dari 586 responden, hanya 3,5% saja yang mengatakan mencoba anal seks dengan pasangannya. Artinya, orang Asia—termasuk Indonesia pastinya—masih menganggap anal seks sebagai aktivitas yang kurang diminati.

Banyak yang kadang menghubungkan anal seks dengan sodomi. Merunut sejarahnya, istilah itu dianalogikan dengan kisah hancurnya dua kota ‘maksiat’ Sodom dan Gomorah. Di beberapa buku dan kitab, kota itu dihancurkan karena masyarakatnya yang sudah terlalu jauh menyimpang, salah satunya melakukan anal seks itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar